Kamis, 22 Desember 2016

Climate Change: “Bleaching Great Barrier Reef ”


Climate Change: “Bleaching Great Barrier Reef ”
Perubahan iklim bukanlah isu belaka, akan tetapi perlahan menjadi fakta yang tidak bisa dihindarkan. Semakin banyaknya penggunaan bahan emisi dan gas carbon yang tidak terkendali semakin memperparah kondisi atmosfer. Suhu rata-rata permukaan bumi dan laut semakin meningkat menunjukkan bahwa pemanasan global memberikan ancaman yang cukup besar bagi keberlangsungan makhluk hidup di masa mendatang.
Meningkatnya suhu di permukaan laut berakibat pada kelestarian Great Barrier Reef yang membentang 2.300 mil di lepas pantai timur laut Australia. Ekosistem ini merupakan sistem terumbu karang terbesar di dunia yang penuh dengan kehidupan biota laut. Penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen dari Great Barrier Reef mengalami pemutihan.  (liputan6.com). Dari 911 terumbu karang yang disurvei, hanya 68 (7 persen) lolos dari pemutihan, sementara antara 60 hingga 100 persen dari karang terkena pemutihan sekitar 316 terumbu(nat.geo). Pemutihan karang terjadi karena karang kehilangan alga, sehingga membuatnya mengalami pengapuran akibat peningkatan temperatur laut. Karang yang mengalami pemutihan ringan bisa kembali pulih jika suhu laut turun jika tidak, karang akan mati. Fenomena pemutihan terumbu karang di Sydney semakin parah karena pengaruh El-Nino.
Berdasarkan penuturan Prof Hughes, “dari 520 gugusan terumbu karang yang di survey, hanya ada 4 gugusan saja yang terbukti tidak mengalami pemutihan, kondisi yang demikian dapat merubah Great Barrier Reef selamanya”.
Terry Hughes, perwakilan Nasional Coral Bleaching Taskforce juga menyatakan, “Kami belum pernah melihat skala pemutihan ini sebelumnya, di bagian utara Great Barrier Reef, itu seperti 10 siklon datang sekaligus”.
            Pemberitaan maupun hasil studi yang demikian menunjukkan peran iklim sungguh berpengaruh cukup besar dalam ekosistem, khususnya bagi perkembangan dan ekosistem di Great Barrier Reef. Keindahan alam yang senantiasa terjaga selama puluhan tahun seketika berubah bahkan mengganggu keseimbangan alam. Secara kasat mata pemutihan terumbu karang tidak mempengaruhi kehidupan manusia hari ini, akan tetapi kenaikan suhu di lautan yang mengakibatkan pemutihan terumbu karang sudah mempengaruhi ekosistem lautan secara perlahan. Dikhawatirkan biota laut seperti ikan-ikan tropis bermigrasi ke daerah yang lebih dingin seperti daerah kutub, sehingga keseimbangan ekosistem menjadi terganggu. Fenomena demikian tidak bisa berhenti dengan sendirinya ataupun berhenti secara total tanpa ada usaha dari manusia dalam mengurangi polusi, emisi gas, sedimentasi, dan penangkapan ikan yang berkelanjutan tanpa ada jeda waktu tertentu.

            

Kamis, 25 Desember 2014

Resensi Buku "Roy Hartono"



Tekad Menggila Dengan Kayuhan Sepeda
Oleh: Najmah Munawaroh

Judul Buku   : Indonesia dan Aku “Catatan bersepeda Ronny Hartono”
Penulis          : Ronny Hartono
Penyunting   : Muslichin HN
Penerbit        : Lestra
Tahun terbit : Mei 2014
Tebal buku    : XV+ 121 hlm, 14 x 21

            Ronny Hartono merupakan nama asing dalam hal kepenulisan, namun beliau tidaklah asing di dunia petualangan, pendakian gunung, hingga terkenal akan Onthelis yang telah mengelilingi nusantara dengan sepeda Onthel yang diberi nama Pertiwi Nusantara. Beliau lahir di Surabaya 17 Agustus 1978. Selain ia telah menaklukan 17 puncak tertinggi dengan sepeda Onthelnya, beliau juga pernah mengelilingi Nusantara dengan berjalan kaki selama 5 tahun ( 26 Agustus 2001- 29 Desember 2006). Sejauh ini Ronny belumlah menulis buku selain Catatan perjalanannya ini, beliau menulis buku ini dimaksudkan untuk memotivasi generasi-generasi baru yang dapat menirunya dalam konteks yang lebih luas.
            Buku ini memiliki kesamaan dengan buku biografi namun cerita perjalanannya belum dapat ditiru oleh orang tanpa motivasi yang kuat untuk meraih cita-cita dengan kecintaan akan tanah iar yang tinggi.
            Buku ini menceritakan tentang perjalanan Seorang Ronny Hartono seorang Onthelis dari Kendal yang bertekad untuk mengelilingi keempat penjuru Indonesia dengan maksud menjalin silaturahim dengan masyarakat yang akan ditemuinya nanti dan memenuhi hasrat serta cita-citanya mengelilingi Indonesia. Kisah berawal dari perjalanannya bersama sahabatnya Rochim yang memiliki tekad gila untuk sampai ke sabang dengan menggunakan Sepeda Onthel tahun 60-an. Perjalanan dimulai pada awal Mei 2010 diamana Ronny dan Rochim menyusuri jalan mulai dari Lampung, Palembang ,Riau, Medan, Aceh, hingga akhirnya sampai di Sabang. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang sangat berharga, dari beberapa daerah yang mereka singgahi mereka mendapat pengalaman akan suku, budaya, makanan khas, adat serta keramahan orang Indonesia yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia sendiri. Dari cerita singkat beliau saya serasa diajak berkeliling Indonesia selama 2 jam, serta pengetahuan dan kecintaan terhadap Indonesia saya semakin bertambah. Keindahan Panorama alam yang ditawarkan dalam setiap perjalanan menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini.
            Dilanjutkan dengan Ekspedisi yang ia lakukan kali ini menembus batas Pulau terluar dari Indonesia, Pulau Ndana dan Miangas. Rute yang ia tempuh kali ini rute timur. Dimulai dari Semarang , Surabaya, Bali, NTB dan NTT. Dalam bagian tulisannya kali ini beliau benar-benar mampu menggambarkan betapa beratnya perjalanan, kuatnya tekad serta keinginan.
            Bagian dari buku ini yang sangat saya sukai adalah ekspedisi 17 Puncak Tertinggi. Bagaimana tidak, saya sangat tertarik dengan tulisan Ronny akan keindahan alam, perjuangan keras, cerita dari masing-masing gunung, pengorbanan, hingga rasa sakit yang menjadi resiko dalam petualangan menaklukan puncak-puncak tertinggi bersama teman-temannya. Mulai dari Gunung Gede, Cermai, Slamet, Sindoro, Sumbing, Merbabu, Welirang, Semeru, Agung, Rinjani, Kerinci, Guntur, Lawu Merapi, Arjuna, Penanggungan dan sebagai penutupan dalam ekspedisi ini adalah Gunung Ungaran.
            Cover buku dengan gambar seorang Ronny Hartono bersama sepeda Onthelnya sudah sangat mewakilkan isi dari buku ini, dengan background warna langit yang cerah ditambah dengan wajah Ronny Hartono yang mantap dan judul yang bertuliskan Indonesia dan Aku yang mengisahkan perjalanannya dengan sejuta kisah Ibu Pertiwi yang telah ia lalui bersama sepedanya. Meski ada beberapa kesalahan cetak namun tidak serta mengurangi nilai dan amanat yang mampu kita ambil dari buku tersebut.
            Pembahasan dari perjalanan demi perjalanan yang dilalui oleh penulis juga diceritakan dengan baik sehingga mampu memberikan suasana nyata kepada pembaca kalau kita benar-benar sedang diajak berkeliling Indonesia melalui tulisan. Buku ini sangat bermanfaat bagi para pecinta alam dan yang mengaku memiliki jiwa petualang. Karena banyak pelajaran akan apa yang dinamakan meraih cita-cita, tekad kuat dan perjuangan itu sendiri. Selamat Membaca.